Sunday, April 19, 2009

Khas Buat aku Yang Dirindui.....



ukhti..dakwah adalah cinta..

biaskanlah rasa cinta dalam hatimu..cinta untuk dakwah..

cinta dalam berukhuwah..

sabarlah ukhti..

kerna sabar itu indah.. apatah lagi jika sabar itu kerana Allah!


-------------------------------------------------------------------------------------


Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.


Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.


Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.


Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.


Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.


Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.


Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.


Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.


Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.


Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.


Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi

kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..


Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “


Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…


“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”





(alm. Ust Rahmat Abdullah)


p/s : Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah. "Surat Layang Untuk Aku"


Wednesday, April 1, 2009

kita bukan penghukum !!


bismillahirrahmanirrahim..

buat ukhtifillah..


ada beberapa hal yang sering bermain di minda ini tatkala ana berada di sini..

perjalanan ini dah menemukan ana pada macam2 bentuk perilaku dan perkara2 yang berkait dengannya..

ana ingat lagi, ketika ana join mukhayyam di negeri beradat, pertama kali ana tersedar yang tarbiah ini bukan sekadar untuk menerima. masih terngiang2 lagi kata2 murobiah ana waktu tu,

"ukhti ana tak mampu pun untuk mendidik anti, apa yang ana harapkan ukhti dapat menjadi sahabat seperjuangan ana untuk kita bersama memikul amanah tarbiah ini."

actually waktu tu ana belum halaqah lagi.. hehe.

walau baru sekejap mengenali akhwat2, namun kebersamaan itu sepertinya sudah sebati dalam diri ini..

bila masuk je sem 2 after tu, bermulalah era pencerahan buat diri ana.. halaqah every week, daurah dan jaulah yang terlalu banyak memberikan view tarbiah ini.

ana teringat lagi pendekatan murobiah ana ketika tu,.. suka juga dia gunakan cara "claim" pada kami, agar kami lebih berubah baik dan mula proaktif bergerak.

contohnya "antunna dah dapat nikmat islam dan iman, tapi tak hargai lagi, if Allah nak tarik bile2 masa je.."

actually bila dengar je terasa kempis hati ni.. cam ana plak cepat sangat effect, selalu sesak dada tambahan bila dapat ayat2 quran yang berat2.. camne pun after tu dia cover balik, bagi taujih yang sangat memotivasikan kami. walaupun halaqah kami tawadhu je, tapi sangat menambahkan energi.

dan juga halaqah yang dirindui..

berbalik kepada apa yang ana nak bicarakan,

kadang2 ana melihat sikap2 kita yang suka sangat menuntut "claim" dari anak halaqah dan akhwat.


contohnya: 'antunna masih tak serius lagi dalam halaqah, ana bersungguh berkorban masa tapi ini ke yang antunna buat.'

ana melihat ada akhwat yang suka berleter pada anak halaqahnya. sedangkan dari segi kefahaman mereka untuk berkomitmen kurang.

suka meletakkan diri sebagai asbab kepada perubahan.

takkan sama antara leteran yg mengikut perasaan kita dengan pencerahan.

contohnya lain : 'ukhti ni ikhlas ke tak, kenapa cam tak bersungguh untuk bantu akhwat. kenapa tak care dengan akhwat. jangan tunggu ana ingatkan je'.

agak terkilan sebenarnya.. kadang2 kita tak mampu untuk mencapai segalanya., akhwat bukan orang yang takde sensitiviti.

apatah lagi untuk persoalkan keikhlasan orang lain.

untuk senang2 diclaim dengan tarbiah, dengan dakwah !!

memang adakalanya perlu, tapi satu masa hal ni buatkan orang akan rasa tertekan.

dakwah ini bagiku adalah motivasi. tanpa sesiapapun ia tetap kekuatan untuk hidup dan terus melangkah di sini.

ana katakan : komunikasi kita sangat mempengaruhi perkembangan mental


ketika nabi muhammad sedang berselimut selepas dilantik sebagai rasul, Allah menurunkan wahyu:

"bangunlah, lalu berilah peringatan" (74:2)

perintah agar baginda memulakan dakwah..

seterusnya Allah berfirman:

"dan kerana Tuhanmu, bersabarlah." (74:7)

lihat bagaimana Allah swt memotivasikan rasulullah dengan perkataan sabar.

banyak lagi ayat2 yang sedemikian..


communication is a way to transfer information. if we don't know how to use that, it's nothing !!

akhwatfillah, jagalah bicaramu, perhatikanlah bahasamu..

kerana itulah "akhlak"

tarbiahlah dengan memotivasi- alquran..

seorang yang mengaku daie tak sewajarnya

mendidik dengan berleter2 , menyindir, menegur dengan kasar, marah tak bertempat dan menyakitkan hati orang.

ada kecenderungan orang2 yang mengikut tarbiah untuk merasakan dirinya bersih.

dan melihat orang lain yang salah, yang tak betulnya.

fahamilah diri mad'u kita biarpun akhwat, yang mungkin ada keresahanyya tika dia bertindak sesuatu yang tidak kita senangi. jadilah orang yang bersedia menerima dan membantu sebolehnya.

akhwatfillah ana mengharapkan sama2 kita luruskan niat. moga kita lebih memperbaiki diri.. pertamanya adalah perbaikan diri..

pandanglah dirimu sentiasa dan jangan lupa memandang insan lain.


KH. Rahmat Abdullah berbicara dalam bukunya “Untukmu Kader Dakwah” :

"Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. "

wallahua'lam

sumber : Di Sini Segalanya Bermula

Related Posts with Thumbnails